Sitemap

1

Inilah Tradisi Mengirim Arwah

ILLIYAN Selasa, 03 Agustus 2010 ,
Saat ini kita berada di pertengahan bulan Sya’ban atau orang jawa mengenalnya sebagai bulan Ruwah. Dan pada bulan ini ada tradisi yang diuri-uri kelestariaannya sampai sekarang dan masih dijalankan terutama di daerah pinggiran atau pedesaan. Orang mengenalnya sebagai tradisi Ruwahan atau Arwahan yaitu tradisi yang berkaitan dengan pengiriman arwah orang-orang yang telah meninggal dengan cara di do’akan bersama dengan mengundang tetangga kiri kanan yang pulangnya mereka diberi ”berkat” sebagai simbul rasa terima kasih . Oleh karena itu jika bulan Ruwah tiba pasar-pasar tradisional akan kebanjiran order untuk selamatan ruwahan , diantaranya beras , bumbu-bumbu, lauk semuanya laris untuk kebutuhan selamatan Ruwahan.




Entah kapan mulainya , beberapa warga desa yang ditemui tidak dapat menjelaskan karena mereka ada tradisi itu telah ada dan selanjutnya terus diadakan sampai mereka punya anak dan cucu. Sehingga jika bulan Ruwah tiba di desa-desa pesisir utamanya Demak dan Jepara setiap harinya pasti ada warga yang mengadakan Selamatan dalam rangka mengirim arwah para leluhurnya baik ibu, bapak, mbah, buyut dan diatasnya lagi. Biasanya yang di undang adalah tetangga kiri kanan dengan pimpinan do’a modin atau kyai yang dituakan di desa itu, adapun bacaan yang dibaca umumnya adalah tahlil , namun satu dua warga ada juga yang mengawalinya dengan acara khotmil qur’an dengan mendatangkan hafid atau hafidoh. Khotmil qur’an itu dengan niatan pahalanya di kirimkan pada ahli kubur yang telah mendahuli mereka , agar di dalam kuburnya mendapatkan ketenangan , kemudahan dari siksa kubur.

” Memang bulan Ruwah bagi masyarakat di desa kami sebagai buan untuk mengirim arwah leluhur yang telah mendahului dengan cara mengadakan selamatan mengundang tetangga kanan kiri . Pahala dari bacaan tahlil tersebut ditujukan untuk para arwah ”, ujar Abdul Fatah (35) warga desa Kedungmutih yang mengadakan acara Ruwahan belum lama ini.

Ruwahan Massal

Selain mengadakan selamatan sendiri-sendiri di rumah ada juga warga yang mengadakan ruwahan massal dengan cara dikoordinir oleh pengurus musholla , Masjid atau Jam’iyah lainnya, adapun caranya panitia menyebarkan edaran yang berisi nama pengirim arwah dan arwah yang dikirimkan do’anya . Dalam mengirim arwah pengirim memberikan sekedar uang untuk kas yang nantinya dapat digunakan untuk keperluan Musholla, Masjid atau Perkumpulan. Untuk Masjid misalnya setiap habis sholat Jum’at diadakan tahlil umum yang pahalanya ditujukan pada arwah yang dikirimkan sesuai dengan yang masuk pada panitia. Oleh karena itu sebelum dimulainya khotbah Jum’at maka panitia mengumumkan pada jamaah orang-orang yang mengirimkan arwah serta arwah yang dikirimi do’a beserta jumlah uang Jariyahnya.
Menurut Muchsin MN panitia Ruwahan Masjid Jami’ ”Baitul Makmur ” Desa Kedungmutih Wedung Demak, acara Ruwahan Massal ini cukup efektif untuk menggalang dana pembangunan Masjid. Dalam setiap minggunya bisa terkumpul minimal Rp 2.000.000,- , sehingga jika dalam bulan Ruwah ada 5 kali tahlil umum maka dana yang diperoleh minimal 10 juta rupiah . Oleh karena itu tradisi ruwahan massal ini setiap tahunnya pasti digelar acara ruwahan massal, sehingga jika bulan Rajab tiba Panitia telah membagikan surat pemberitahuan diaadakannya Ruwahan massal dengan memberikan lembaran yang berupa isian arwah yang dikirimkan . Kemudian jika bulan Ruwah tiba panitia lewat corong di Masjid mengumumkan pengumpulan lembaran yang telah dikirimkan untuk dibacakan nanti setelah shalat Jum’at tiba.




Hal sama juga dikatakan Abdurrohim salah seorang pengurus Musholla di desa Kedungkarang Wedung Demak, kaumnya juga melaksanakan acara Ruwahan Massal setiap tahun sekali jika bulan ruwah tiba. Caranya hampir sama , dengan membagikan kitir arwah pada kaum musholla yang nantinya dibacakan pada acara puncak ruwahan massal dengan menggelar khotmil Qur’an , do’a bersama dan juga selamatan seluruh warga kaum musholla . Dari acara ruwahan massal inipun panitia mempunyai kelebihan uang yang selanjutnya dapat dipergunakan untuk keperluan musholla , misalnya untuk pembangunan atau keperluan lainnya.



” Alhamdulillah tahun lalu dari kelebihan acara Ruwahan Massal dapat kami pergunakan untuk mengeramik lantai Musholla ,tahun inipun kami berharap ada kelebihan uang yang nantinya akan kami pergunakan untuk keperluan musholla lainnya ”, ujar Abdurrohim.

Kemeriahan acara Ruwahan massal antara desa yang satu dengan desa yang lain pasti ada , namun demikian esensinya semua sama yaitu mengadakan do’a bersama memanjatkan pada yang kuasa agar arwah leluhur yang telah mendahului kita mendapatkan pengampunanNya . Oleh karena itu tradisi yang tidak tahu kapan dimulainya akan terus berlangsung dan tidak dapat dipastikan kapan berakhirnya.

1 komentar para sahabat:

Dhana/戴安娜 mengatakan...

salam sahabat
jadi teringat di kampung halaman mas hehehehe..wah disini tradisinya siip kolaborasi modern kayaknya hiks hiks,,,,good luck kabuuurrrr

Poskan Komentar

Saya akan selalu menerima komentar, kritik, dan saran anda, jika anda berkomentar tampa PORN serta SPAM dan jangan pernah meninggalkan link pada kotak komentar.
Terimakasih atas partisipasi anda.
Jangan Lupa Follow Blog ini!!!

Entri Populer

 
Copyright 2010 InformanZ