Sitemap

0

Informan Terbaik Di Dunia

ILLIYAN Selasa, 06 April 2010
      Warga negara Jordania yang melakukan aksi bom bunuh diri sehingga menewaskan tujuh agen badan intelijen Amerika Serikat (CIA) di Afghanistan pekan lalu, dipandang sebagai informan terbaik dalam beberapa tahun, demikian laporan The New York Times, Rabu.
Harian itu, yang mengutip sejumlah pejabat CIA, melaporkan bahwa warga Jordania itu dipandang memiliki informasi tentang anggota teras pejuang Al-Qaidah, termasuk tempat persembunyian Ayman az-Zawahri, tokoh nomor dua di organisasi itu.

Pada kenyataannya, CIA begitu antusias atas informasi yang Humam Khalil Abu-Mulal al-Balawi tawarkan.
Para pejabat tinggi di CIA dan Gedung Putih diberitahu bahwa dia dibawa ke Afghanistan untuk mengikuti satu pertemuan.
Tetapi bukan memberikan informasi yang dicari AS selama bertahun-tahun, Balawi malahan melakukan bom bunuh diri dengan bahan peledak yang dibawanya masuk ke satu pangkalan AS di Khost. Bom bunuh diri itu menewaskan tujuh agen CIA.
The New York Times melaporkan, latar belakang Balawi telah diketahui badan intelijen Jordania dan AS, tetapi kedua badan itu yakin ia telah dibujuk oleh bekas teman-temannya sehingga berubah.

Balawi berhasil meyakinkan atasannya dari Jordania dengan memberikan serangkaian informasi tentang Al-Qaidah sehingga kedua badan itu percaya. Ia pun lolos dari pemeriksaan ketika memasuki pangkalan AS untuk mengadakan pertemuan dengan rekan-rekan CIA.
Meskipun bekerja sebagai informan, ia telah menyumbang tulisan-tulisan anti-Amerika ke laman-laman berbau Jihad dengan nama samaran Abu Dujana al-Khorasan, yang bertujuan tetap membangun kontak dan memperoleh informasi, demikian harian itu.
Namun, para pejabat itu mengatakan kepada The New York Times bahwa pandangan-pandangan yang disampaikan dalam jaringan itu merupakan keyakinan sesungguhnya.
Serangan tersebut merupakan yang terburuk terhadap CIA dalam beberapa tahun.


Beliau adalah Abu Dujanah Al-Khurasany, seorang dokter dan seorang aktifis jihady internet. Pernah ditangkap karena aktifitasnya di berbagai forum jihad internet dan akhirnya ditahan selama 1 tahun oleh pemerintahan Jordania. Intelijen Jordan akhirnya merekrutnya demi kepentingan mendapatkan informasi Al-Qaida, terutama setelah meyakinkan akan menemui Syaikh Aiman. Akhirnya dia terbang menuju Afghanistan dan terjadilah apa yang terjadi. Agen ganda, begitulah mereka katakan.

Pernah diwawancarai oleh majalah jihady milik Al-Qaeda, Thala-i’ Khurasan edisi ke-15. Terjemahannya sudah banyak tersebar di berbagai situs jihady.
Kabar terakhir komando umum Al-Qaeda yang dipimpin oleh syaikh Musthafa Abul Yazid memberikan keterangan resmi atas serangan mematikan di markas CIA tersebut. Sejumlah forum jihady arab juga memberikan statemen atas syahidnya Abu Dujanah Al-Khurasany, sang penulis ulung di berbagai forum jihad.

Kabar resmi dari Imarah Islam tentang serangan tersebut terdapat di situs yang baru muncul, alhamdulillah setelah melihat isinya banyak memberikan manfaat.
Berikuti ini adalah terjemahan wawancara beliau dengan majalah Thala-i’ Khurasan;
Interview Majalah Thala-i’ Khurasan dengan Abu Dujanah Al-Khurasany
Thala-i’ Khurasan: Abu Dujanah, kepribadiannya diketahui melalui berbagai makalah dan posting yang tersebar di forum-forum jihad internet. Kami ingin memperkenalkannya kepada pembaca lebih dalam lagi, siapakah dia?
Abu Dujanah Al-Khurasany: Segala puji milik Allah, shalawat dan salam kepada yang terpilih (rasulullah). Pertama-tama aku ingin berterima kasih kepada saudara-sadaraku di Thala-i’ Khurasan atas kesempatan yang diberikan kepadaku untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang kucinta di sini dan di internet. Semoga Allah memberikan ganjaran yang baik bagi kita dan kaum muslimin.

Adikmu ini datang dari sebelah utara Jazirah Arab ’semoga Allah melepaskan tawanannya’. Umurku tiga puluh tahun lebih sedikit, aku seorang yang telah beristri dan memiliki dua orang putri, Alhamdulillah. Ijinkanlah aku mencukupi perkenalanku ini.
Thala-i’ Khurasan: Ketulusan merupakan pertanda kebaikan, dan kini Abu Dujanah Al-Khurasany benar-benar telah berada di Khurasan. Pergi ke medan jihad merupakan suatu nikmat robbany dan karunia yang besar. Apa yang telah berdampak pada diri Antum dan yang mendorong antum untuk memanggul senjata di bumi ini?
Abu Dujanah Al-Khurasany: Segala puji bagi Allah atas nikmat ini, dan tiadalah suatu nikmat yang Allah rizkikan kepadaku, setelah nikmat islam, yang lebih kucinta darinya.
Mengenai pertanyaan yang antum ajukan wahai saudaraku yang tercinta, jawabannya mencakup dua hal. Yang pertama adalah aku cinta kepada jihad dan mati syahid. Jawaban kedua berkenaan dengan hal yang umum, yaitu berkenaan dengan kondisi umat islam.
Mengenai hal yang pertama, kecintaanku pada jihad dan mati syahid telah tertanam semenjak kecil. Aku mendengarkan al-quran dengan penuh khusyu’ dan harap agar mendapatkan mulianya jihad dan mati syahid ketika kuberanjak besar dan dewasa. Aku pun bertanya-tanya pada diriku: “Akankah aku terus dan tetap mencintai jihad dan mencari mati syahid saat aku menjadi seorang lelaki? Ataukah aku akan menjadi seperti orang-orang di sekitarku; yang menganggap jihad hanya sebagai khayalan dan perilaku orang gila?”.. Semoga Allah melindungi kita.

Kecintaan ini tumbuh bersamaku meskipun berkali-kali mengalami kemunduran dalam berbagai tahap kehidupanku. Cinta ini bagi orang-orang yang tidak memahaminya menganggapnya akan mengeruhkan kehidupannya dan merusak kelezatannya. Dan tidaklah akan paham kalimatku ini kecuali orang yang telah diuji dengannya.
Ketika antum merenungkan berbagai ayat dan hadits yang berbicara tentang jihad dan keutamannya, lalu berimajinasi dan merasakan apa yang Allah janjikan bagi para syuhada maka antum akan berlaku zuhud dalam setiap hal kecuali padanya. Rumah-rumah megah, mobil-mobil mewah, dan seluruh perhiasan dunia akan menjadi hina di pandangan antum dibandingkan dengan kurma-kurma yang dilemparkan oleh ‘Umair bin Al-Humam -radhiyallahu ‘anhu- di zamannya seraya berkata: “Jika aku hidup hingga aku selesai memakan kurma-kurma ini, sungguh itu merupakan kehidupan yang panjang”, lalu ia pun menyerang orang-orang musyrik hingga terbunuh.

Jika kecintaan terhadap jihad telah merasuk ke hati seorang lelaki, maka cinta itu takkan pernah meninggalkannya meskipun ia ingin melakukannya. Dan jika ia berupaya untuk melupakannya atau mengalami amnesia maka kondisi akan memberontak dan memarah. Ia akan menemui dirinya dikelilingi berbagai hal yang disebutkan mengenai jihad. Kabar berita yang ia dengarkan di radio tentang amaliyah istisyhadiyah di Mosul akan mengingatkannya tentang jihad. Sepenggal kalimat di berita yang menanyangkan tentang pesan terbaru syaikh Usamah akan mengingatkannya dengan jihad, bahkan mengingatkannya dengan istana-istana megah, rumah para syuhada di surga Firdaus. Kalaupun ia takjub dengan kecantikan istrinya maka akan terlintas di benaknya para wanita rupawan yang selalu menanti suami-suami mereka di surga di atas kasur yang terbuat dari sutra. Seluruh kenikmatan yang kurang di dunia fana ini akan mengingatkannya dengan saudarinya yang sempurna di alam yang kekal yang Allah janjikan bagi hamba-hambanya para syuhada.

Orang-orang dulu mengatakan: “Dan diantara kecintaan apa yang terbunuh”, aku tidak bisa melihatnya secara riil kecuali dalam kecintaan terhadap jihad. Cinta ini akan membunuhmu sebagai suatu kerugian karena engkau memilih berdiam diri, atau akan membunuhmu sebagai syahid di jalan Allah jika engkau memilih berangkat berjihad. Dan setiap orang tidak memiliki pilihan kecuali satu diantara dua kematian ini.

Adapun hal yang umum dari jawabanku adalah yang berkenaan dengan kondisi yang diderita umat islam saat ini dari berbagai bencana dan pembantaian yang melelehkan air mata dan melukai hati yang pedih. Inilah gambar-gambar dan kisah-kisah (menyedihkan) yang sampai pada pandangan dan pendengaran kita, batu serta manusia pun tak mungkin mampu untuk menanggungnya. Lalu apa yang ada di benakmu mengenai seorang muslim yang diberi nama oleh orang tuanya dengan nama lelaki?
Pemandangan para perempuan berpakaian namun telanjang kaum zionis yang menyaksikan Gaza beserta penduduknya yang terbakar menggunakan teropong, seakan mereka menyaksikan sebuah film komedi atau sedang mengikuti fenomena alam.
Gambar-gambar tubuh anak-anak yang tertumpuk di koridor-koridor rumah sakit dan tergambar di kehidupan mereka pemandangan yang suci yang dikotori oleh kekejian sampai-sampai kita tak dapat membedakan apakah mereka masih hidup ataukah telah meninggal!.. Dan sebelumnya apa yang telah menimpa masjid merah dan bagaimana murid-murid syaikh Abdul Rasyid Ghazy -rahimahullah- dibunuh setelah mereka memilih ketetapan hati daripada memilih rukhshah, mereka tidak meninggalkan secuil pun kelunakan dari kejantanan bagi seorang muslim pada dirinya, yang menjadikan dirinya terombang-ambing antara hinanya berdiam diri dan kemuliaan berangkat berjihad.

Apakah setelah semua kejadian ini orang-orang menginginkan kami untuk membawa bunga-bunga yang tersisa dan memakai pakaian raya! Tidak, demi Allah kami tidak akan pernah memanggul kecuali senjata dan kami tidak akan pernah berpakaian kecuali jubah perang dan sabuk peledak.

“Mengapa kalian tidak mau berperang di jalan Allah sementara orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita, dan anak-anak semuanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zhalim penduduknya..” (An-Nisa’ 5:75).

Thala-i’ Khurasan: Kondisi seseorang akan berubah saat debu-debu berdiam diri telah lenyap darinya dan ia berkumpul bersama dengan singa-singa di medan pertempuran, lalu apa yang telah berubah dari diri antum setelah antum menginjakkan kaki di bumi jihad dan i’dad?
Abu Dujanah Al-Khurasany: Tapi katakan apa yang tidak berubah dari diriku? Aku terlahir di sini dan aku mulai menghitung umur semenjak aku melihat lelaki pertama yang memanggul senjata. Meski berbagai kesulitan yang kami hadapi sebagai mujahidin namun aku merasakan kegembiraan seakan-akan aku merasa diriku seorang anak kecil yang polos yang bermain dengan temannnya. Aku merasa ringan dari berbagai kegalauan layaknya kupu-kupu yang terbang dari satu bunga ke bunga lainnya di taman. Benarlah apa yang dikatakan rasulullah SAW: “Jihad adalah pintu diantara pintu-pintu surga yang agung, yang dengannya Allah selamatkan seseorang dari risau dan kesedihan”.

Kedongkolanku terhadap ahli takhdzil dan irja’ telah berubah menjadi rasa kasihan, dan doa burukku terhadap mereka berubah menjadi doa agar mereka mendapat hidayah, Allah telah menjauhkan mereka untuk mendapatkan keutamaan yang agung. Demi Allah jika mereka datang ke sini niscaya mereka akan menangisi kesalahan-kesalahan mereka. Segala puji bagi Allah yang telah melindungi kita dari ujian yang diberikan kepada orang lain.
Kebersamaan Allah yang kami rasakan selama perjalanan kami menuju mujahidin merupakan bukti terbaik atas keselamatan manhaj mereka. Dan apa yang kami saksikan di sini dari isyarat-isyarat robbany dan kelembutan rohani juga memberikan kabar gembira tentang manhaj mereka. Saat ini aku sedang menikmati ketenangan ini dan merasakan manisnya ketentraman. Benak kami tidak disibukkan kecuali oleh dua hal: keteguhan dan keikhlasan, kita memohon pertolongan kepada Allah.

Thala-i’ Khurasan: (Bangkitkanlah (semangat) mereka dan roh suci bersamamu) dan hadits-hadits lainnya yang menganjurkan tentang jihad dengan lisan dan efeknya yang besar dalam menolong islam, kenapa Abu Dujanah tidak mencukupkan diri dengan jihad jenis ini sementara dia memiliki peran aktif dalam bidang ini?

Abu Dujanah Al-Khurasany: Bagaimana aku mau mentahridh manusia untuk berjihad sementara aku hanya duduk berdiam diri bersama orang-orang yang tertinggal? Bagaimana bisa aku menjual minyak wangi sementara bauku busuk? Bagaimana aku bisa menjadi seperti sebuah sumbu yang membakar dirinya demi memberikan penerangan? Bisakah akal menerimanya?

Bagaimana bisa aku melarikan diri dari firman Allah ta’ala: “Jika kalian tidak berangkat berjihad pasti Allah akan mengadzab kalian dengan adzab yang pedih dan mengganti kalian dengan kaum selain kalian” (At-Taubah 9:39).

Jihad dengan lisan diperlukan, jihad dengan harta dibutuhkan, akan tetapi keduanya tidak mencukupi jihad dengan jiwa, dan juga keduanya tidak bisa dijadikan sebagai pengganti kewajiban berangkat berjihad. Rasulullah SAW bersabda: “Jika kalian diminta untuk berangkat berjihad maka berangkatlah”. Rasulullah SAW juga bersabda dalam sebuah hadits yang dishahihkan oleh Hakim: “Jihadilah orang-orang musyrik dengan harta kalian, jiwa kalian, dan lisan kalian”, huruf ‘atf (waw/dan) di sini memiliki faedah bahwa hukum ketiganya adalah sama dan hukumnya adalah wajib, dan rasulullah SAW tidak bersabda: “dengan harta kalian atau atau jiwab kalian atau lisan kalian”, dengan cara memilih. Bahkan Allah ta’ala mendahulukan perintah berperang dari perintah untuk tahridh dalam firman-Nya: “Berperanglah kamu di jalan Allah dan engkau tidak dibebani melainkan dirimu sendiri, dan tahridhlah (kobarkanlah semangat) kaum mukminin” (An-Nisa’ 5:84). Kemudian jihad dengan jiwa merupakan kebaikan yang murni. Meskipun kondisinya mubah dalam jihad ofensif maka sudah menjadi hakku untuk berangkat karena di dalamnya terdapat ganjaran, lalu bagaimana kondisiku kini karena jihad telah menjadi fardhu ‘ain? Aku tambahkan lagi bahwa berangkatnya seorang muslim untuk berjihad di jalan Allah tidak akan mencegahnya untuk melakukan jihad dengan lisan, akan tetapi malah akan menguatkannya dan memeliharanya, dan tiadalah yang lebih memberikan efek dari perkataan yang dibenarkan dengan perbuatan. Jika seorang muslim memiliki kehidupan seperti ini maka ia akan berada diantara orang-orang yang amalannya membenarkan perkataannya, dan jika dia terbunuh di jalan Allah maka sesungguhnya ia menjadikan perkataannya kekal yang menjadi petunjuk sepanjang perjalanan menuju jihad dengan izin Allah.

Thala-i’ Khurasan: Kalau begitu apa yang antum nasehatkan kepada para penulis di forum-forum jihad dan apa yang akan antum katakan?

Abu Dujanah Al-Khurasany: Aku nasehatkan kepada mereka untuk berangkat berjihad di jalan Allah dan jangan sampai setan menghalang-halangi mereka dari berjihad dengan berbagai alasan yang semu. Agar mereka tahu bahwa raksasa telah berlaku sewenang-wenang di berbagai negeri dan mereka telah banyak berlaku kerusakan. Jika kalian mendapati dari mereka dengan seuntai kata yang kalian tulis di punggung-punggung mereka, maka mereka telah mendapati dari dien kalian apa yang lebih mengena dari sekedar ucapan, dan itu terjadi pada berbagai kerusakan-kerusakan dan fitnah-fitnah yang mereka sebar di jalan-jalan dan universitas-universitas, di mass media visual, audio, dan tulisan. Dan mungkin salah seorang diantara kita masih saja berpanjang angan dan menjadi orang-orang yang lalai, lupa. Kita memohon perlindungan kepada Allah.

Demi Allah sekiranya pergi berangkat berjihad di jalan Allah tidak memiliki faedah kecuali hanya hidup di sebidang tanah yang engkau tidak melihat kemaksiatan dan kemungkaran di dalamnya, maka sungguh itu telah cukup bagimu.. Renungkanlah!!!

Thala-i’ Khurasan: Sebelumnya kami telah mengajukan pertanyaan berkenaan dengan tema forum-forum jihad, maka sekarang kami ingin menanyakan bagaimana Abu Dujanah Al-Khurasany memulai perjalannya di forum dan apa yang memperkuat keinginannya?
Abu Dujanah Al-Khurasany: Demi Allah lukaku telah menganga, penyakitku semakin mengadu, dan kesedihanku semakin mendalam. Aku telah meninggalkan saudara-saudaraku di forum yang lebih aku cintai dari sebagian keluargaku, kita memohon kepada Allah agar sudi mengumpulkan kita dengan mereka di surga Firdaus.

Berkenaan dengan perjalananku: forum Al-Hesbah merupakan kediamanku, aku pernah menulis sebuah artikel yang berbicara tentang kegagalan Agenda Baghdad dibandingkan dengan pertempuran Falujah. Aku sertakan argumen-argumen dari kejadian nyata di dalamnya. Seorang musyrif/moderator menjadikan tulisanku ini dalam golongan sticky thread. Hal ini mendorongku untuk terus menulis. Realitanya para musyrif di forum mencurahkan kesungguhan yang besar untuk selalu memantau dan meneliti posting-posting di forum, dan mereka memilih posting yang paling bermanfaat sebagaimana mereka memilih buah-buahan yang paling baik. Inilah yang menjadikan forum Al-Hesbah sebagai madrasah yang mencetak para penulis dalam tingkatan para ahli seperti Abdurrahman Al-Faqir, Yaman Mikhdhab, Thariq Abu Ziyad, dan masih banyak lagi yang tidak cukup untuk disebutkan di sini.

Dulu aku hanyalah seorang anggota biasa di Hesbah sampai suatu ketika ada seorang ikhwan menawariku untuk menjadi musyrif di Hesbah. Alhamdulillah aku menerima tawaran itu yang membuatku dapat berkenalan dengan ikhwan-ikhwan yang tidak pernah aku temui semisal mereka di forum-forum lain. Hampir tak seorangpun mengetahui mereka, tidak pula seorang pun mengucapkan terima kasih kepada mereka, akan tetapi mereka mengharapkan ganjaran dari Allah ta’ala. Berapa kali sudah aku merasa diriku rendah di samping mereka. Aku merasa heran bagaimana mereka bisa mentazkiyah diri mereka dan berhias diri dengan akhlak dan sifat mujahidin sementara mereka tidak sedang berada di medan pertempuran? -kita berharap demikian dan Allah lah yang menghisab mereka-. Ketika aku berjumpa dengan seorang mujahid di sini yang mengerti tentang forum-forum jihad aku segera menanyai pengetahuannya tentang Hesbah dengan harapan dia adalah seorang musyrif yang kami cintai karena Allah atau seorang anggota, dan aku pun merangkulnya ke dadaku, rangkulan seorang saudara kepada saudaranya yang ia rindui.

Thala-i’ Khurasan: Siapa sajakah mereka yang membekas pada diri antum?
Abu Dujanah Al-Khurasany: Luwais ‘Athiyyatullah, Muhibbur Rasul, dan banyak lagi.
Thala-i’ Khurasan: Sekarang antum sudah berada di tengah-tengah mujahidin, bagaimanakah antum mendapati dien dan jihad mereka?
Abu Dujanah Al-Khurasany: Betapa hebatnya mereka! Orang-orang asing dan hanya di sisi Allah lah ganjaran mereka. Aku menulis tentang mereka dan ketika aku berjumpa mereka penaku terdiam. Kian hari kulalui, pembicaraanku kian sedikit dari hari sebelumnya. Aku telah belajar dari mereka bahwa diam lebih jelas daripada ucapan. Mereka adalah suatu kaum yang setengah bagian mereka berada di langit bergembira dan setengahnya lagi berada di bumi sembari menanti, dan tidaklah mereka merubahnya sedikit pun.

Aku terheran-heran dengan mereka.. Kenapa mereka tidak menangis di hadapanku ketika mereka menyebutkan ikhwan-ikhwan yang telah syahid sementara mereka tidak memiliki suatu aturan yang melarang mereka untuk menangis? Jika nama seorang yang telah syahid disebutkan di hadapan mereka diantara nama-nama yang mereka ketahui, engkau akan mendapati air mata yang membeku di pipi-pipi mereka seakan-akan setetes embun di pelupuk mawar yang indah. Engkau akan mendapati tangisan di mata mereka yang lebih dahsyat dari rengekan. Kadang aku terdiam merasa kasihan dengan kondisi mereka meskipun aku terus ingin mendengarkan kisah-kisah perjalanan para ksatria. Jika aku lihat salah seorang dari mereka mulai menjauh, langkah mulai melambat, dan nafas mulai terengah tak mampu tuk padamkam api kerinduan di dadanya, aku meninggalkannya dan pergi.. karena jika aku tak melakukannya maka dialah yang akan melakukannya, oleh sebab itu engkau dapati sebagian besar kisah mereka tidak lengkap, bingung mencari akhir dari kisah mereka.
Di sini ada seorang bernama Abdullah Azzam Al-Azdy -dia terbunuh beberapa bulan yang lalu, kita memohon kepada Allah agar menerimanya-, akan tetapi dia enggan untuk meninggalkan mereka. Satu demi satu ikhwan telah pergi. Ketika aku mendengarkan tentang akhlaknya, jihadnya, dan tawadhu’nya aku merasa iri kepada setiap orang yang melihatnya dan setiap orang yang menangisinya. Aku pun sempat berharap kiranya aku bisa berangkat sebelum dia sayhid agar aku bisa bertemu dengannya.

Jika engkau mendengarkan seorang ikhwan yang memiliki pengalaman jihad dan dia bercerita tentang kisah-kisah jihad, lalu dia mulai mengatakan: “Dulu aku bersama seorang fulan rahimahullah (semoga Allah merahmatinya), dan fulan taqabbalahullah (semoga Allah menerimanya), dan abu fulan semoga Allah mengumpulkan kita bersama mereka di surga Firdaus”, maka engkau akan merasakan seakan dia tidaklah bercerita tentang kisah yang telah terjadi selama dua tahun saja akan tetapi seakan dia berkisah tentang perang Badar atau pertempuran Qadisiyah. Dan juga engkau akan mendapatinya layaknya seorang musuh bagi detik dan menit yang dia habiskan di atas bumi yang jauh dari ikhwan-ikhwannya kecuali dalam ketaatan kepada Allah. Aku memohon kepada Allah agar memberikan apa yang mereka cari.
Adapun tentang akhlak mereka maka kisahkanlah dan tiada dosa untuk mengisahkannya. Seorang ikhwan mujahidin melarangku untuk mencuci piring dengan alasan aku tidak layak untuk membersihkannya, lalu ia pun mencuci piring-piring itu. Dan jika ia melihatku bersiap-siap untuk memasak, maka dia melarangku dengan alasan bahwa aku tidak bisa memasak, lalu ia pun memasak untuk kami. Aku tahu semua yang ia lakukan itu demi mendapatkan ganjaran mealayani ikhwan-ikhwannya. Itulah keinginan mereka di sini!.. Kadang aku bangun di pagi buta agar aku bisa melihatnya sedang bersih-bersih dan bersiap-siap tanpa seorang pun melihatnya.

Ada seorang ikhwan yang menjadi amir kami, ketika kami berkumpul untuk makan, aku melihatnya mengirisi daging dan meletakkannya di depan kami hingga tidak ada yang tersisa kecuali hanya tulang dan gajih. Maka aku pun memutuskan untuk tidak lagi duduk bersamanya saat makan agar aku tidak lagi memakan bagiannya.
Aku bertemu seorang ikhwan non-Arab baru di medan dan aku tidak menemui seorang pun yang logatnya lebih melekat darinya. Dia tidak bisa berbahasa arab kecuali hanya sedikit akan tetapi dia terus berusaha untuk membaca kitab-kitab berbahasa arab. Suatu ketika aku berjalan-jalan di depannya, saat itu dia sedang membaca sebuah kitab, lalu ia memanggilku dari kejauhan. Saat aku mendatanginya dan dia berkata kepadaku dengan wajah yang tampak ceria merasa senang: “Bacalah wahai saudaraku hadits ini yang berbicara tentang keutamaan jihad!”, aku pun membacanya. Dia melihatku sembari tersenyum lalu dia berdoa kepada Allah agar memberinya kesyahidan. Beberapa saat kemudian dia memanggilku lagi: “Kemarilah wahai saudaraku!”, wajahnya layaknya bulan purnama, kemudian dia membacakan sebuah hadits lain untukku yang membuatnya takjub tentang keutamaan jihad.. lalu ia pun meminta kepada Allah mati syahid.

Setiap kali aku melihat wajahnya yang cemerlang, aku bertanya-tanya pada diriku sendiri: Di manakah kalian wahai yang menyebut dirinya dengan ‘allamah salafy dan jahbadzil atsary?! Di manakah kalian wahai para ulama’ umat yang berbicara dengan bahasa kontradiktif dengan lelaki ini yang sedikit ilmunya akan tetapi dia datang ke sini membenarkan perkataan Rabb dan nabinya, mencari kematian di jalan Allah. Demi Allah itu adalah hujjah atas kalian wahai kalian yang duduk-duduk di rumah kalian diantara orang-orang yang berudzur dan penggembos. Laa hawla wa laa quwwata illaa billah..
Thala-i’ Khurasan: Sebagai penutup, apakah pesan yang ingin antum sampaikan kepada singa-singa yang sedang beribath di perbatasan media jihad?
Abu Dujanah Al-Khurasany: Aku katakan kepada ikhwan-ikhwan yang kucintai yang sedang beribath di perbatasan media jihad untuk segera menolong saudara-saudara mereka para mujahidin dengan pena kalian, harta kalian, dan waktu kalian. Buanglah jauh-jauh dari kalian debu-debu futur dan keloyoan. Demi Allah keadaan tidak menyenangkan, dan anjing-anjing Haganah -zionis- telah membantai kita, menutup forum-forum jihad, dan menghapus link-link download media jihad. Apakah kebatilan mereka lebih dahsyat dari hak kalian? Sekiranya kalian mengetahui kedudukan kalian di sisi ikhwan-ikhwan kalian para mujahidin sungguh bulu mata kalian takkan berkedip dan kehidupan kalian tidak akan baik sebelum kalian menyenangkan pandangan mereka dengan kembalinya Hesbah, Ekhlaas, dan Buraq. Apakah kalian mengerjakannya sementara kalian telah mengetahuinya?

Dan akhir dari seruan kami adalah segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

0 komentar para sahabat:

Poskan Komentar

Saya akan selalu menerima komentar, kritik, dan saran anda, jika anda berkomentar tampa PORN serta SPAM dan jangan pernah meninggalkan link pada kotak komentar.
Terimakasih atas partisipasi anda.
Jangan Lupa Follow Blog ini!!!

Entri Populer

 
Copyright 2010 InformanZ